Apa itu Anti Forensik?

Anti Forensik
Anti Forensik adalah ilmu Kontra Investigasi. Membahas Anti Forensik adalah sama analoginya dengan membahas Virus dan Antivirus, keduanya saling melemahkan, saling mencari kelemahan dengan tujuan tertentu. Definisi Anti Forensik menurut Dr. Marc Rogers dari Purdue University adalah suatu percobaan yang mengakibatkan efek negatif dari kuantitas ataupun kualitas dari suatu bukti kejahatan, atau membuat suatu analisa dari suatu bukti menjadi sulit atau tidak mungkin dilakukan.

Anti Forensik lebih fokus pada bagaimana supaya investigasi  terhambat bahkan sedapat mungkin kalau mungkin menjadi tidak mungkin dilakukan. Ini adalah ilmu penghambat pelacakan jejak, ilmu menyembunyikan data rahasia. Anti Forensik berfokus untuk mengatasi investigasi Komputer Forensik. Anti Forensik merupakan bidang teknologi informasi yang legal dan dalam banyak hal justru membantu meningkatkan keamanan data, menjaga privasi, dan sebagainya. Tindakan semacam Secure Delete, Enkripsi, Steganografi, dan sejenisnya adalah tindakan yang sah-sah saja dan justru membantu pengamanan data dan privasi Anda.

Anti Forensik sendiri memiliki banyak tujuan, beberapa diantaranya adalah :
  1. Menghindari deteksi bahwa suatu event telah terjadi ( log file misalnya)
  2. Mengacaukan dan mencegah pengumpulan Informasi
  3. Memperlama proses yang diperlukan oleh si peneliti untuk menyelesaikan satu kasus.
  4. Membuat skenario yang meragukan laporan dari suatu Forensik ketika nanti dipakai di pengadilan (misalnya dengan membuktikan bahwa suatu data data mudah di manipulasi sehingga tidak layak dijadikan bukti di pengadilan)
  5. Mendeteksi Forensic Tool untuk kemudian menghindarinya, atau membuat seolah olah tidak ada bukti yang diperoleh oleh Forensic Tool tersebut.
  6. Melindungi data data pribadi

Adapun teknik anti forensik yang ada adalah sebagai berikut :
  1. Unrecoverable Delete: Beberapa file atau data yang telah kita hapus dari Drive, Memory Card atau Flash Disk dapat dikembalikan menggunakan tool recovery data, misalnya: GetDataBack, Recuva, dsb. Maka bisa jadi ada kemungkinan beberapa data rahasia yang telah terhapus dapat dibaca oleh orang lain. Untuk mengantisipasinya kita dapat menggunakan tool file deleter, atau file shreder, dengan begitu data yang telah kita hapus tidak akan dapat di recovery lagi. Kita bisa cari aplikasi seperti itu lewat internet.
  2. Penyembunyian File( Hidden File): Menyembunyikan data rahasia, mungkin salah satu solusi yang dapat kita lakukan. Ada beberapa program yang dapat kita gunakan untuk melakukannya, seperti Folder Lock, Hide My Folder, dll.
  3. Hash Collision: Hash adalah suatu  identitas file yang “berbentuk” algoritma. Nah, dengan hash ini ahli forensik menggunakannya sebagai integritas suatu file, dengan begitu ahli forensik dapat membandingkan suatu file adalah asli atau telah di-edit. Ada beberapa program untuk memodifikasi hash, seperti hex editor, Reshacker, eXpress Timestamp Toucher, dsb.
  4. Anonymous Internet user: Ada banyak cara untuk menyembunyikan jejak kita di internet, mulai dari yang paling sederhana seperti penghapusan history, penggunaan TOR sebagai bounce, menggunakan IP anonymous antar, hingga menggunakan Virtual Machine Ware pada saat mengeksekusi browser.
  5. Memory Usage: Jumlah pemakaian memory juga akan dioprek oleh ahli forensik untuk menganalisa proses apa saja yang sedang berjalan, penggunaan aplikasi seperti Task Manager, Process Explorer, dll dapat digunakan untuk menganalisanya.
  6. Registry: Di lokasi ini juga akan jadi target operasi ahli forensik untuk mengungkap proses startups, services, dan konfigurasi lain.
  7. Log Events: Pada event viewer tersimpan sejarah penggunaan aplikasi atau aktivitas system, penghapusan log event dapat sedikit menghilangkan jejak. Di dalam event pada antivirus juga tersimpan beberapa aktivitas. Logs USB juga dapat dijadikan sasaran penyelidikan ahli forensik, lokasi dari logs itu tersimpan di dua tempat: Pertama, berada pada file setupapi.log atau setuapi.dev.log di dalam %windir%\ atau %windir%\inf, Kedua terletak di dalam registry editor: My_Computer\HKEY_LOCAL_MACHINE\SYSTEM\CurrentControlSet\Enum\USBSTOR\.
  8. Secure Data Deletion: adalah salah satu teknik tertua/tradisional dari anti-forensics, suatu metode yang sangat mudah, efisien dan “simple” untuk dilakukan, dibanding dengan berbagai teknik lain seperti enkripsi, “steganography”, modifikasi data, penyembunyian data, dsb. Meskipun resiko untuk diketahui akan relatif lebih mudah, tetapi untuk kegiatan computer forensic, apabila data yang dibutuhkan tidak didapatkan maka akan mempersulit/memperlambat kegiatannya. Beberapa aplikasi yang bisa anda manfaatkan adalah: srm, wipe, shred, dsb. Sejak 2008 Shred masuk kedalam paket penting dari GNU (GNU coreutils) dan akan membuat secara default terinstall, sehingga anda tidak perlu melakukan instalasi aplikasi Secure Data Deletion lainnya.
  9. Shred: Apa yang dilakukan Shred adalah dengan menulis ulang file secara berulang kali dengan tujuan mempersulit kemungkinan untuk merecover data yang sudah dihapus. Shred, bagaikan pisau bermata dua. Tetapi shred juga memiliki berbagai keterbatasan pada jenis file system tertentu, terkompresi dan yag memiliki dukungan snapshot.
  10. Enkripsi: Enkripsi pada suatu data merupakan cara jadul yang sampai saat ini masih ampuh untuk mengurangi pelacakan bukti digital. Data-data yang dapat di-enkripsi dapat berupa file image, video, dokumen, dll. Ada beberapa program yang dapat kita gunakan, contohnya TrueCrypt, PGP yang dapat mengenkripsi E-mail, bahkan Wireshark yang dapat menghindarkan data kita di intip oleh sniffer pada saat mengakses jaringan.
  11. Steganografi: Sebuah data atau pesan dapat kita sembunyikan di dalam suatu file agar orang lain tidak dapat mengenalinya.

Efektivitas anti forensik (Effectiveness of anti-forensics) Metode anti forensik mengandalkan beberapa kelemahan dalam proses forensik termasuk:. Unsur manusia, ketergantungan pada alat, dan keterbatasan fisik / logis dari komputer Dengan mengurangi kerentanan proses forensik untuk kelemahan tersebut, pemeriksa dapat mengurangi kemungkinan metode anti-forensik berhasil mempengaruhi penyelidikan. Hal ini dapat dicapai dengan memberikan peningkatan pelatihan bagi peneliti, dan menguatkan hasil menggunakan beberapa alat.

Sumber :
Harris, R. (2006). Arriving at an anti-forensics consensus: Examining how to define and control the anti-forensics problem. Retrieved December 9, 2010, from:http://www.dfrws.org/2006/proceedings/6-Harris.pdf

Hartley, W. Matthew. (2007). Current and Future Threats to Digital Forensics. https://www.issa.org/Library/Journals/2007/August/Hartley-Current%20and%20Future%20Threats%20to%20Digital%20Forensics.pdf

http://www.forensics-research.com/index.php/anti-forensics/

http://www.pustakasekolah.com/forensik-dan-anti-forensik.html
Share this article :

Post a Comment

 
Support : Copyright © 2015. Forensika Digital - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger